Diversifikasi Produk Jamu Tradisional Lokal untuk Ketahanan Pangan Paguyuban Jamu Gendong Wonolopo
Diversifikasi Produk Jamu Tradisional Lokal untuk Ketahanan Pangan Paguyuban Jamu Gendong Wonolopo
Abstract
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan proses produksi dan mendorong diversifikasi produk jamu tradisional pada Paguyuban Jamu Gendong Sumber Husodo di Wonolopo, Semarang. Paguyuban yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun ini berperan penting sebagai usaha mikro berbasis kearifan lokal sekaligus sumber penghidupan bagi anggotanya. Meskipun memiliki pengalaman panjang, pengelolaan usaha jamu masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain proses produksi yang masih manual, keterbatasan inovasi produk, pengemasan konvensional, serta pemasaran yang belum adaptif terhadap perkembangan pasar. Program pengabdian dirancang melalui pendekatan kolaboratif dan transdisipliner selama enam bulan, yang melibatkan pendampingan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan manajemen usaha. Intervensi utama difokuskan pada optimalisasi proses produksi jamu tradisional dan pengembangan produk inovatif berupa jamu fermentasi dalam bentuk minuman fungsional kombucha berbahan herbal lokal, seperti jahe dan sereh. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi peningkatan efisiensi produksi, diversifikasi produk, dan nilai tambah ekonomi bagi mitra. Selain memperkuat daya saing usaha jamu gendong, program ini juga berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan berbasis pangan fungsional lokal serta pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
References
'[1] R. I. Kemenkes, “Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia,” Kementeri. Kesehatan. RI, 2017.
'[2] N. Ermawati, E. Efrilia, S. M. Yuniarsih, G. P. Ramadhan, M. R. P. Parama, and A. Hasnah, “Jamu Goes to School: Pengenalan Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asli Indonesia pada Anak Sejak Dini di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kauman Wiradesa: Jamu Goes to School: Introducing Jamu as an Authentic Indonesian Intangible Cultural Heritage to,” Darma Diksani J. Pengabdi. Ilmu Pendidikan, Sos. dan Hum., vol. 5, no. 4, pp. 200–207, 2025.
'[3] M. R. Priamsari and M. M. Susanti, “Analisis cemaran mikroba pada jamu gendong kunir asem yang beredar di wilayah semarang utara,” JAFP (Jurnal Akad. Farm. Pray., vol. 5, no. 1, pp. 21–31, 2020.
'[4] M. Yasir et al., “RESEP JAMU HERBAL: Inovasi Kearifan Lokal dengan Nano Partikel”, CV Baifa Cendekia Indonesia, hal 1-17, 2025.
'[5] G. P. Dewi and A. M. Ginting, “Antisipasi krisis pangan melalui kebijakan diversifikasi pangan,” J. Ekon. dan Kebijak. Publik, vol. 3, no. 1, pp. 97–118, 2012.
'[6] W. Sulaeman et al., “Diversifikasi Diversifikasi Produk Toga Berbasis Edukasi Dan Digital Marketing Sebagai Desa Wirausaha Di Desa Waluran: Diversification of Toga Products Based on Education and Digital Marketing as an Entrepreneurial Village in Waluran Village,” J. Abdi dan Dedik. Kpd. Masy. Indones., vol. 3, no. 1, pp. 8–21, 2025.
'[7] P. M. Kustiawan and Y. U. Wutsqa, “Bahan Alam dalam Pengobatan, Pangan, dan Kosmetik: Tindakan Komprehensif,” Bukuloka Literasi Bangsa, hal 73-79, 2025.




.png)






