Pengenalan Pembuatan Es Lilin Beras Kencur dan Kunyit Asam dalam Upaya Meningkatkan Minat Minum Jamu Siswa SD
Abstract
Jamu merupakan minuman tradisional yang kaya akan manfaat untuk Kesehatan, jamu dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit maupun dalam memelihara Kesehatan tubuh. Jamu dapat diminum mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, inovasi terhadap produk jamu perlu dilakukan untuk meningkatkan minat minum jamu pada anak-anak. Salah satu inovasi yang dibuat yaitu dengan mengemas jamu dalam bentuk es lilin, hal ini dikarenakan minat anak untuk meminum es sangat tinggi sehingga jamu dikemas dalam bentuk es tetapi masih memperhatikan manfaat dan kegunaanya. Pada pengabdian Masyarakat ini kami dilaksanakan dengan melakukan demonstrasi proses pembuatan es lilin kunyit asam dan beras kencur pada siswa kelas 5 SD N Plamongansari 02. Metode pada kegiatan ini yaitu dengan melakukan pengenalan produk jamu kepada anak-anak dengan mengemasnya melalui berbagai pemberian materi melalui permainan bergambar tentang tanaman jamu yang kita gunakan dan bahan tambahan lain serta menonton video proses pembuatan jamu hingga pengemasan menjadi es lilin yang akan meningkatkan minat minum jamu pada anak-anak. Kegiatan berjalan lancar dan antusiasme anak-anak SD N Plamongansari 02. Proses pemberian materi berjalan dengan sangat menarik karena kami sajikan dengan berbagai permainan dan lagu yang menarik antusiasme murid untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan. Hal ini menunjukkan semua paramater keberhasilan pelaksanaan telah tercapai dengan baik.
References
'[1] I. Setiawan, Suharyanto, and R. Dianto, “Peningkatan Pengetahuan Tentang Jamu Pada Siswa-Siswi di Sekolah Dasar Negeri 1 Boyolali,” J. Surya Masy., vol. 1, no. 1, pp. 54–58, 2018.
'[2] D. A. Akbar and R. I. N. Sulistyo, “Sosialisasi dan Inovasi Olahan Jamu Jahe Instan Mantab ‘ JAHENAB’ Tradisional,” HAGA J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 2, no. 1, pp. 35–40, 2023.
'[3] D. L. Isnawati, “Minuman Jamu Tradisional Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Di Kerajaan Majapahit Pada Abad Ke-14 Masehi,” AVATARA, e-Journal Pendidik. Sej., vol. 11, no. 2, pp. 1–10, 2021.
'[4] D. R. Ramadhan et al., “Pengetahuan Masyarakat terhadap Penggunaan Jamu untuk Meningkatkan Imunitas Penderita COVID-19 yang Pernah Menjalani Isolasi Mandiri,” J. Farm. Komunitas, vol. 9, no. 2, pp. 194–199, 2022.
'[5] S. Nurbaidah, “Traditional Javanese Herbal Medicine Naming System,” in Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKA), 2022, pp. 460–468.
'[6] R. K. Sugiharti and D. Febriana, “Kebiasaan Minum Jamu Kunyit Asam dalam Mengatasi Keluhan Dismenor pada Remaja Putri,” J. Kebidanan Indones., vol. 12, no. 2, pp. 67–73, Jul. 2021, doi: 10.36419/JKI.V12I2.497.
'[7] S. Mulyani, B. A. Harsojuwono, and G. A. K. D. Puspawati, “Potensi Minuman Kunyit Asam (Curcuma domestica Val.-Tamarindus indica L.) Sebagai Minuman Kaya Antioksidan,” Agritech, vol. 34, no. 1, pp. 65–71, 2014.
'[8] T. Cahyanto, “Kajian Etnobotani Tanaman Kencur (Kaempferia galanga) di DesaMajakerta, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung,” J. Teknol. Pangan dan Ilmu Pertan., vol. 1, no. 4, pp. 247–253, 2023.
'[9] H. Y. Yusuf, E. Sjamsudin, A. T. Yuza, and T. Maulina, “Efektivitas Penggunaan Kurkumin Terhadap Peningkatan Sistem Imun Tubuh,” Dharmakarya J. Apl. Ipteks untuk Masy., vol. 12, no. 1, pp. 40–45, 2023.
'[10] M. Jalil, A. Purwantoro, B. S. Daryono, and Kurniawan, “Jamu Kunir Asem: Tinjauan Etnomedisin oleh Peramu Jamu Jawa di Yogyakarta,” J. Jamu Indones., vol. 6, no. 1, pp. 8–15, 2021.
'[11] F. Fadillah, D. Sulastri, and R. P. Haryanti, “Pengaruh Pemberian Kencur dan Madu Terhadap Nafsu Makan Anak 6-12 Tahun di PKM Rawat Inap,” Media Husada J. Nurs. Sci., vol. 5, no. 2, pp. 91–99, 2024.
'[12] M. R. Heryandita, N. I. Atikawati, L. M. Irham, and H. Hartatik, “Tren Penelitian Terkait Beras Kencur dan Proses Pembuatannya,” Pros. Semin. Pus. Inf. dan Kaji. Obat, vol. 1, no. 1, 2022, Accessed: Apr. 26, 2025. [Online]. Available: http://seminar.uad.ac.id/index.php/PIKO/article/view/12461.
'[13] E. Setiawan, P. Agroteknologi, and F. Pertanian, “Keragaman Populasi Pohon Asam (Tamarindus indica L.) di Jalan Raya Socah-Arosbaya, Kabupaten Bangkalan dan Strategi Konservasi,” Rekayasa, vol. 11, no. 2, pp. 95–103, Oct. 2018, doi: 10.21107/REKAYASA.V11I2.4446.
'[14] D. D. Lebakrejo et al., “Ethnobotanical Study of Tamarind (Tamarindus indica L.) in Lebakrejo Village, Purwodadi District, Pasuruan Regency,” Berk. Ilm. Biol., vol. 13, no. 1, pp. 24–33, May 2022, doi: 10.22146/BIB.V13I1.4073.
'[15] I. Puspitaningrum et al., “Pembuatan Jamu Instan Kunyit Asem di Kader Remaja Puskesmas Bangun Galih, Tegal,” J. DiMas, vol. 3, no. 1, pp. 120–124, Apr. 2021, doi: 10.53359/DIMAS.V3I1.23.
'[16] P. Griya Damai Lestari Kelurahan Sabah Balau Lampung Selatan Untia Kartika Sari Ramadhani et al., “Pemberdayaan Perempuan melalui Pembuatan Permen Jelly Kunyit sebagai Peningkat Imun Tubuh pada Era Pandemi Covid-19 di Perumahan Griya Damai Lestari Kelurahan Sabah Balau Lampung Selatan,” J. DiMas, vol. 5, no. 1, pp. 30–34, May 2023, doi: 10.53359/DIMAS.V5I1.50.










.png)


